Pemerintah, lembaga negara, hingga para pakar akan buka-bukaan terkait strategi kebijakan yang harus dan akan ditempuh untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan pada tahun depan. Sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan untuk menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah tekanan ekonomi global juga akan tersingkap, dalam agenda akhir tahun pemerintah bertajuk Seminar Nasional Outlook Perekonomian Indonesia 2024.
Pemerintah sebetulnya telah mewanti-wanti tekanan ekonomi global akan semakin berat pada 2024. Membuat proyeksi pertumbuhan dalam asumsi makro 2024 diturunkan menjadi 5,2%. Mulanya, dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2024 pertumbuhan ekonomi dipatok sebesar 5,3%-5,7%, namun menjadi di rentang 5,1%-5,7% sebelum akhir disepakati oleh Pemerintah dan DPR di level 5,2% dalam asumsi makro APBN 2024.
"Itu menurut saya merefleksikan risiko yang meningkat dan dari assessment lembaga internasional menggambarkan bahwa perekonomian melemah di semester II tahun ini dan berlanjut di 2024," kata Menteri Keuangan Sri. Kementerian Keuangan pun telah mengungkapkan, faktor yang akan menekan perekonomian global ke depan dan mempengaruhi ekonomi domestik di antaranya inflasi dunia yang masih terus bertahan tinggi, pelemahan ekonomi China, hingga volatilitas harga komoditas.
Volatilitas harga komoditas terutama masih dipicu oleh eskalasi tensi konflik global, seperti konflik Ukraina-Rusia dan Palestina-Israel, geoeconomic fragmentation, shock akibat perubahan iklim, terbatasnya kebijakan fiskal secara global, hingga peningkatan risiko krisis utang dunia.
